Rabu, 09 Januari 2013

Galau Jakarta dari Desa

Saya yakin inilah penyakit yang banyak diderita oleh para dokter-dokter PTT. Malarindu dan galaukoma (lebih dari galausopor!). Sungguh.

Bagaimana hidup sendiri, terutama untuk yang belum menikah, nan jauh ratusan kilometer dari keluarga, awalnya pasti merongrong hati. Namun seiiring perjalanan waktu, perasaan sudah mulai biasa saja, maka bisa saja dilalui.

Namun (lagi-lagi namun) hal itu bisa rekurensi lagi ke pikiran superfisial kita ketika masa galau. Ya, masa-masa galau tidak jarang timbul di desa, di kala mau tak mau terpikirkan. Sebut saja, masa kalau mati lampu. Apalagi kalau hanya dokter, rumah dinas yang gelap ditemani lampu emergency yang kian meredup. Sungguh galau bukan!

Kedua, memandangi lautan bintang di langit sambil duduk di teras rumah dinas...

Ketiga, memandangi halaman rumah dinas sambil mencium bau rumput basah setelah hujan datang...

Keempat, pikiran kosong saat 30 menit menunggu rendaman pakaian kotor yang tengah direndam di waskom. Aaarghh...!

Sungguh banyak waktu galau dokter PTT. Di tengah galau, pasti banyak yang terekskresi keluar dari pikiran. Entah bagaimana nyak-babe di rumah, bagaimana adik saya bisa menyelesaikan skripsi saya... Dan tak pelak, sungguh, saya rindu Jakarta. Saya rindu untuk berpetualang dengan busway, menjelajah Kota Tua, berburu buku baru dan bekas, menikmati kesendirian di Sushi Tei dan Sushi Groove *loh*. Saya rindu "polusi" Jakarta, di kala semua tampaknya enggan ke Jakarta.

Kini waktuku di Menjalin sudah berderik-derik. Kurang dari 100 hari. Aku mencium bau Jakarta, aku mencium bau petualangan... Namun, bisakah kelak. Aku pun kembali menikmati lautan bintang dan berharap ada bintang yang jatuh.

Menjalin, 9 Januari 2013.

 

 

4 buah diagnosa diferensial telah diberikan:

  1. Semangat dok! ^_____^ seru baca blog dokter

    BalasHapus
  2. @Listya: terima kasih ya atas apresiasinya :)

    BalasHapus
  3. Bila dokter ad Followers sebanyak 356, maka Saya Followers Ke 357

    BalasHapus
  4. Hehehe terimakasih ya mbak Sutami. Maaf kalo linimasa twitter saya kadang bisa galau hehehe

    BalasHapus

Para konsulen dipersilahkan menuliskan diagnosa diferensial untuk kasus ini: