Minggu, 31 Mei 2009

Konsili Valencia (1229): Orang Katolik dilarang membaca Alkitab?


Pertanyaan ini saya ajukan di katolisitas.org. Tulisan di bawah adalah hasil dari Ibu Ingrid. Saya memasukkan hasil ini untuk membantu menginformasikan dan meluruskan informasi yang keliru. Hak cipta tetap pada katolisitas.org

Saya sendiri akhir-akhir ini sering membaca mengenai sejarah Kristen baik Katolik dan Protestan. Saya menemukan beberapa hal yang sebenarnya sangat menyesatkan dan informasi yang keliru. Bagaikan Dan Brown yang menyebutkan Yesus menikah dengan Maria Magdalena, maka beberapa informasi keliru atas Gereja Katolik. Saya mendapatkan tulisan yang berasal dari Pdt. Budi Asali M.Div dari Golgota Ministry dalam tulisannya "Pembahasan Mengenai Roma Katolik", dan di dalamnya banyak sekali kutipan dari Boettner dari bukunya Roman Catholicsm yang membantah akan ajaran Katolik.



Saya mendapatkan kutipan:
Adanya Keputusan Konsili Valencia pada tahun 1229, yang berbunyi sebagai berikut:
“We prohibit also the permitting of the laity to have the books of the Old and New Testament, unless any one should wish, from a feeling of devotion, to have a psalter or breviary for divine service, or the hours of the blessed Mary. But we strictly forbid them to have the above-mentioned books in the vulgar tongue”

Kami melarang juga pemberian ijin kepada orang awam untuk memiliki buku-buku Perjanjian Lama dan Baru, kecuali seseorang ingin, dari suatu perasaan untuk berbakti, untuk mempu-nyai kitab Mazmur atau buku doa Roma Katolik untuk kebaktian / pelayanan ilahi, atau saat-saat Maria yang terpuji. Tetapi kami dengan keras melarang mereka untuk memiliki buku-buku tersebut di atas dalam bahasa kasar

Sebuah hal asing bagi saya, karena saya tidak pernah tahu adanya Konsili Valencia ini dan kata-katanya memang sungguh sangat kontradiktif, dan menyesatkan karena disimpulkan dari Pendeta tersebut adalah: orang awam Katolik sebenarnya tidak boleh memiliki Alkitab. Benarkah??? Sungguh menyesatkan.

Dan inilah jawaban dari Ibu Ingrid:

Shalom Andreas,
Sebenarnya, data yang anda kutip mungkin itu yang tercacat menurut seorang Teolog Kristen Protestan yang bernama Loraine Boettner (sekitar thn 1928), yang mengatakan, “Alkitab dilarang untuk orang awam, yang dimasukkan dalam buku Indeks Buku-buku Terlarang oleh Konsili Valencia thn 1229″ (”Bible forbidden to laymen, placed on the Index of Forbidden Books by the Council of Valencia . . . [A.D.] 1229.“)


Namun sebenarnya Boettner mengutip sumber yang keliru. Sebab, indeks Buku-buku Terlarang itu baru dikeluarkan tahun 1559, sehingga Konsili yang diadakan jauh sebelumnya, tidak mungkin memasukkan daftar buku-buku tersebut.


Hal kedua yang cukup penting adalah, kelihatannya sangat tidak mungkin diadakan Konsili Gereja Katolik di Valencia, Spanyol pada tahun itu. Seandainya ada, semestinya terjadi sebelum tahun 1229, sebab pada tahun itu, orang-orang Islam menguasai kota itu. Sangat sukar dibayangkan, jika orang-orang Muslim pada saat itu, yang menentang orang-orang Kristen di Spanyol, dapat memberikan izin bagi para Uskup Katolik untuk mengadakan Konsili di salah satu kota mereka. Pasukan Kristen baru dapat membebaskan Valencia setelah 9 tahun kemudian. Maka, besar kemungkinan, Konsili Valencia sebenarnya tidak pernah ada.


Tetapi ada juga kemungkinan lain, yaitu yang dimaksud adalah Konsili di Toulouse, Perancis yang diadakan pada tahun 1229, sebab Konsili tersebut membahas tentang Kitab Suci. Konsili tersebut diadakan sebagai reaksi terhadap heresi Albigensian/ Catharist, yang percaya pada dua Tuhan (Tuhan yang Baik dan yang Jahat) dan bahwa perkawinan adalah jahat/ buruk, sebab melibatkan tubuh/ matter, karena tubuh dianggap buruk. Heresi ini menyimpulkan bahwa perzinahan bukan dosa, dan bahkan menganjurkan bunuh diri di antara anggota-anggotanya. Untuk menyebarluaskan paham ini, maka para Albigensian menyebarluaskan terjemahan Alkitab yang tidak akurat dalam bahasa setempat (menyerupai terjemahan Alkitab dari Saksi Yehova sekarang ini). Seandainya terjemahan itu akurat, tentu Gereja Katolik tidak berkeberatan. Sebab terjemahan dalam bahasa lokal memang sudah ada sejak lama. Tetapi apa yang dikeluarkan dari Albigensian ini adalah Alkitab yang sudah ’salah terjemahan’. Maka para Uskup di Toulouse melarang para awam untuk membacanya, sebab isinya keliru. Ini adalah langkah untuk melindungi umat, sama seperti para pendeta Protestan sekarang ini juga yang melarang jemaatnya membaca Injil Saksi Yehova.


Selanjutnya, mari kita lihat sikap resmi yang dikatakan oleh Gereja Katolik. Demikian menurut Paus Klemens XI melalui Bull Unigenitus 1713, yang memuat 101 proposisi menanggapi ajaran sesat Quesnel. Silakan membaca di link ini tentang keseluruhan Bull tersebut -silakan klik Berikut ini kutipan sebagian saja:


79. Adalah berguna, dan perlu senantiasa, di segala tempat, dan untuk semua orang, untuk mempelajari dan mengetahui semangat, kekudusan, dan misteri dari Kitab Suci.
80. Pembacaan Kitab Suci adalah untuk semua orang.
81. Adanya ketidak-jelasan yang agung dalam Sabda Tuhan tidak menjadi alasan bagi orang awam untuk tidak membacanya.
82. Hari Tuhan harus dikuduskan oleh umat Kristen dengan membaca karya-karya orang kudus, dan terutama Kitab Suci. Adalah berbahaya jika seorang Kristen tidak melakukan hal ini.
83. Adalah suatu ilusi untuk meyakinkan diri bahwa pengetahuan tentang misteri dalam agama tidak perlu dijelaskan kepada para wanita dengan pembacaan Kitab Suci. Bukan dari keluguan wanita, namun dari kesombongan pengetahuan para pria, maka terjadi penyalahgunaan Alkitab dan bermacam heresi/ ajaran sesat telah ditimbulkan.
84. Untuk mengambil dari tangan umat Kristen, Perjanjian Baru, atau untuk menjadikannya tertutup dengan mengambilnya dari mereka sarana untuk memahaminya, adalah [seperti] menutup mulut Kristus.
85. Melarang orang-orang Kristen untuk membaca Alkitab, terutama Injil, adalah seperti melarang menggunakan terang pada anak-anak Terang, dan menyebabkan mereka seolah-olah menanggung ‘ekskomunikasi’.


Jadi dari jawaban di atas, menurut saya jelaslah sudah duduk masalahnya. Gereja Katolik tidak melarang umatnya membaca Alkitab, hanya memang pada suatu periode tertentu sekitar tahun 1229, memang terjadi kondisi khusus sehubungan dengan adanya penyelewengan teks Kitab Suci yang dilakukan oleh sebuah sekte sesat (Albigensian) pada saat itu. Maka larangan untuk membaca Alkitab pada saat itu merupakan tindakan gembala untuk menyelamatkan kawanan dombanya.
Mari kita melihat segala sesuatunya dengan kacamata yang objektif, melihat fakta sejarah, namun juga dengan kepercayaan penuh kepada apa yang diputuskan oleh para pemimpin Gereja. Jangan lupa, bahwa Roh Kudus yang telah diutus oleh Yesus untuk melindungi Gereja-Nya adalah Roh Kudus yang sama yang menuntun para pemimpin Gereja yang adalah penerus para Rasul.


Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Catatan: Sebagian dari jawaban diterjemahkan dari Catholic Answers. Selengkapnya silakan membaca di sini.

Semoga ini dapat memberi informasi yang benar...

0 buah diagnosa diferensial telah diberikan:

Posting Komentar

Para konsulen dipersilahkan menuliskan diagnosa diferensial untuk kasus ini: