Rabu, 20 Februari 2013

Hormati Surat Keterangan Sakit

Hari ini saya punya pengalaman yang cukup unik di Puskesmas, ketika seorang pria dewasa muda dan dengan penampakan sehat datang ke poliklinik Puskesmas dan berkata, "Dok saya ingin meminta surat keterangan sakit." "Siapa yang sakit?",tanya saya. "Saya." Saya langsung sedikit ragu dengan insting saya.

Dengan beberapa pembicaraan dia mengatakan bahwa dia demam kemarin dan ingin meminta surat keterangan sakit untuk ijin ke kantornya dengan alasan gaji bisa dipotong dan absensi terhitung alpa. Namun saya periksa saat ini baik-baik saja.

Terus terang, saya menolak. Pertama, saya tidak memeriksa dia saat sakit karena saya yang akan menandatanganinya. Kedua, saat ini sudah tidak sakit dan ia meminta surat dengan tanggal ke belakang, bukan tanggal hari ini.

Saya pun meminta maaf. Dia pun kemudian berkilah bahwa dulu-dulu toh bisa. Saya pun mengatakan, yang menandatangani adalah saya sekarang ini. Saya yang bertanggung jawab atas surat ini kelak.

Sampai suatu ketika tercetus katanya, "Dok saya minta capnya saja dan tak perlu tulis nama dokter." Saya dan Bu Yones, perawat di poliklinik pun emosi seketika. Saya mengatakan, saya tidak bisa dan tak mau ambil risiko karena semua ini kelak mambawa-bawa nama institusi Puskesmas kami yang tertera di kop. "Kok sekarang dipersulit sih." Saya menjawab, "Saya tak mempersulit Anda. Jika Anda periksa saat sakit pun surat bisa keluar kok." Walaupun dalam diri saya pun masih menyimpan ragu apa benar ia sakit.

Surat keterangan sakit sering dipandang sebelah mata walau nilai kepentingannya tinggi. Hal inilah yang sering disalahgunakan. Surat ini seringkali menjadi kartu sakti, dan alasan sakit menjadi alasan untuk membolos kerja, sampai menghindari diri dari pengadilan. Sungguh ia berkekuatan hukum! Makanya, saya tak pernah mau main-main soal surat ini. Apalagi surat ini sering diperjualbelikan di forum-forum di internet.

Sampai pasien itu berkata, "Di tempat lain kok bisa. Di sini tidak bisa?" Saya hanya menjawab, "Jika anda merasa di tempat lain bisa mengeluarkannya, silakan ke sana. Jangan ke kami. Ini aturan kami di sini."

 

Sungguh menyedihkan kalau melihat masyarakat masih memandang surat ini sebelah mata, dan mengira setiap diminta bisa langsung diberikan atau diperjualbelikan... Jika Anda merasa sakit dan merasa perlu keadaan ini dinilai oleh profesional medis atau tenaga kesehatan untuk dibuatkan surat keterangan, maka periksakan dengan segera. Jangan menunggu berlama-lama.

 

4 buah diagnosa diferensial telah diberikan:

  1. Hehehe, tapi kadang kita baru menyadari pentingnya kejujuran kalau sudah ketimpa batunya :( makanya harus tetap mawas diri supaya jangan terjerumus hahahaha....

    BalasHapus
  2. Hahahahha bagus dok. Dulu waktu SMA, aku juga pernah nih bolos sekolah gara-gara takut belum ngerjain PR Fisika akhirnya aku minta surat keterangan sakit ke dokter yg kebetulan tetanggaku sendiri. OMG aku sungguh malu kalo teringat masa SMA-ku itu. Kalo sekarang aku tidak berani karena sakit itu bukanlah sesuatu yg dianggap main-main. Sehat itu adalah berkah kok malah pura-pura sakit. Keep being an honest doctor! =)

    BalasHapus
  3. Tapi kalo bener sakit kemarennya tapi ngak sempet minta surat dokter gimana? Soalnya ngak kepikiran bakalan di mintai surat dokter, menurut dokter gimana?

    BalasHapus

Para konsulen dipersilahkan menuliskan diagnosa diferensial untuk kasus ini: