Minggu, 09 Januari 2011

Resolusi 2011

Hal ini terangkat dari rekan-rekan yang tengah gencar menuliskan Resolusi mereka di tahun 2011. Bagaimana dengan resolusi saya?


1. Menentukan Jargon Kriteria "Mau Jadi Dokter Seperti Apa?"

2. Menyelesaikan Sisa Kepaniteraan Klinik agar tak lagi jadi sarden dan lulus tepat waktu

3. Lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia

4. Menentukan Minat Bidang Studi Lanjut (PTT? Sp atau Magister?)

5. Mengembangkan Bahasa, terutama Bahasa Inggris, Mandarin, dan Jerman

6. Travelling setelah koas

7. Cari pengalaman dunia kerja setelah koas

8. Terus memperbaiki diri, spirituil terutama berpikir positif dan mengendalikan diri

9. Mengembangkan kemampuan menulis, minimal 1 tulisan masuk ke media cetak

10. Memperbaiki berat badan, menuju ke BMI Overweight (Bye bye- Obese 1)

11. Menjalani resolusi dengan tepat guna.

Sabtu, 08 Januari 2011

Sehari Tanpa Medis

Akhirnya saya menyelesaikan rotasi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin di RS P di Jakarta. Ini adalah sebuah kelegaan (artinya saya tinggal harus menyelesaikan 2 rotasi lagi). Rotasi Kulkel ini meninggalkan kesan yang lumayan, berada di rekan-rekan yang mengasyikkan, kasus-kasus medis yang banyak dan bejibun. Yup di RS P pasien begitu beragam, berbagai kasus kulit dan kelamin didapatkan. Cukup bersyukur sebenarnya memperoleh rotasi di sini.

Salah satu yang menjadi kerinduan, setelah menyelesaikan ujian, adalah perasaan "libur". Saya terakhir kali benar-benar merasakan hal ini saat setahun lalu. Memang sudah sangat lama bukan? Tanggal merah yang ada di kalender pun rasa-rasanya belum cukup. Saya memutuskan untuk mencoba merasakannya lagi kemarin, Sehari Tanpa Medis. Maksudnya, adalah hari-hari ketika saya bisa mengerjakan dengan leluasa segala hobi-hobi non medis, membaca buku non-fiksi hingga selesai. Pokoknya benar-benar tak ada satu ons pun perihal medis di otak dan tak ada hal pekerjaan atau masalah-masalah pelik di otak saat hari itu.

Saya pun berangan. Bayangan saya, mungkin menikmati pantai laut di Maladewa, menikmati semilir anginnya, dan tenang temaram, sambil berangan-angan ingin melakukan hal-hal lainnya. Sayangnya itu adalah hal yang terlalu mustahil, dan janganlah menjadi waham atau delusi (Doh, istilah medis lagi!). Maka dari itu saya berusaha menikmati apa yang saya punya.

Yang penting adalah refreshing dan mencoba bermimpi, menikmati hidup sehari tanpa medis. Saya pun kembali diingatkan mengenai kehidupan yang indah dan tak selamanya pelik.

Minggu, 26 Desember 2010

Setelah Koas, Belajar Bahasa!

Saya dan rekan-rekan saat studi Bahasa Jerman di Goethe Institut Internationes Jakarta, Menteng.
Kalau tidak salah ini tahun 2003-2004!

Saya tiba-tiba ingin sekali menulis tentang ini. Ya, mungkin ini adalah tulisan mengenai hal-hal yang akan segera datang (Yeay!) paling tidak kurang dari 1 tahun mendatang. Artinya? Setelah saya menyelesaikan studi di Kepaniteraan Klinik ini. Mengapa harus setelah koas? Ya, koas ini secara tidak langsung mengubur beberapa impian saya, membuat hal-hal tidak bisa saya lakukan dalam masa ini. Ya, artinya hal-hal ini sudah terkubur selama 1,5 tahun terakhir. Saya sangat tidak sabar menunggu pertengahan 2011, dan artinya saya akan "bebas". Hahaha!

Pertama, saya sangat ingin melanjutkan kembali mempelajari kembali bahasa-bahasa, terutama beberapa bahasa yang saya rasa tanggung. Ya dulu sempat mempelajari beberapa tata bahasa sederhana. Saya ingin sekali melanjutkan lagi belajar bahasa Jerman, bahasa Mandarin, belajar bahasa Tio Ciu (Masak orang Pontianak, Tio Ciunya amburadul?), bahasa Jepang, bahasa Tagalog, dan ada keinginan untuk satu dari bahasa Eropa Selatan (Italia, mungkin?) dan satu bahasa Eropa Timur (Rusia!).

Saya kembali terinspirasi dari salah satu pengguna Youtube, loki2504, yang belajar banyak sekali bahasa dan dia bisa mempraktikkan dengan lancar. Seandainya, saya bisa seperti dia! Ingin sekali bisa seperti dia.

Hingga kini yang lancar saya hanya bisa Bahasa Indonesia (Hiks) baik untuk berbicara, menulis, dan mendengar serta menulis ilmiah. Bahasa Inggris ya kalau membaca buku teks kedokteran masih bisa, tapi berantakan juga kalau disuruh presentasi ilmiah (Jadi ingat presentasi Emergency Case Report ketika di stase Bedah). Kelompok bahasa Mandarin menjadi suatu impian juga untuk dikuasai, ya karena saya keturunan Tionghoa, paling tidak saya harus bisa juga. Bahasa Jepang sedikit-sedikit tahu kana (itu dulu, sekarang lupaa... ) karena kekerapan menonton anime. Bahasa Jerman, karena dulu terlanjur bahasa belajar resmi di Goethe. Bahasa lainnya menjadi keinginan.

Saya memang berusaha mempelajari secara otodidak, mendengar melalui ipod (sekarang ipodnya diwariskan ke adik saya). Koleksi beberapa buku belajar bahasa pun ada. Namun waktu tidak ada... Yang ada pulang ke rumah setelah koas, capai, dan tidur. Atau kalau tidak mengerjakan tugas. Hemmm, impian itu masih ada, dan sempat terkubur dan terlupa. Tetapi sejak melihat video dari loki2504, mimpi itu kembali bangkit.

Mungkin Anda bertanya mengapa susah-susah belajar bahasa? Saya juga sulit menjawabnya. Bagi saya sangat menarik belajar bahasa, dan itu sangat membuka wawasan yang ada di luar ilmu berbahasa lokal. Dan ternyata saya baru menyadari bahwa ini juga berhubungan dengan salah satu impian saya lainnya (setelah koas, tentunya) yaitu menjelajah, berpergian, keliling dunia. Semoga mimpi itu tetap ada!

Jumat, 03 Desember 2010

Kisah dengan Pasien-pasien Neurologi

Saya dan rekan-rekan koas neurologi

Blog ini sudah tampak berdebu, penuh tikus dan laba-laba. Sudah lama sekali -sangat lama-, saya tidak tulis menulis di tempat ini. Sebenarnya saya sangat merindukan untuk menulis. Tapi, ya, kegiatan koas begitu banyak memakan waktu. Dan bulan kemarin saya menghabiskan kepaniteraan di RSUD S di Kota Sukabumi. Celakanya, saya tidak memiliki akses internet kecuali si Blackberry yang semakin lama semakin rewel minta di-reboot ulang terus.

Yang saya ingin bagikan kali ini, lagi-lagi tentang pasien. Ya, saya tidak punya cerita tentang apapun lagi yang berkesan di bulan kemarin. Yup, sudah saya pikirkan dan bongkar-bongkar lagi. Mungkin Anda bosan dengan cerita tentang pasien melulu. Namun, ini cukup berbeda dari cerita dua anak retardasi mental dan pasien dengan penyakit jiwa yang sudah lalu saya kisahkan. Mari saya mulai.

Saya menghabiskan waktu sebulan di bagian neurologi di RSUD Syamsudin, ya sebelumnya di seminggu di RS A di Jakarta. Ada satu hal yang menarik saya ketika salah satu konsulen berkata: "Saya lebih suka Anda berada dengan pasien, menghabiskan waktu dengan pasien, ataupun sebisanya sering dengan pasien." Ya, mungkin kata-kata ini tidak biasa bagi para koas. Ada beberapa yang menganggap pasien adalah guru. Beberapa pihak juga merasakan pasien adalah beban, terutama bagi yang jaga malam karena harus mengisi laporan. Kalau saya? Saya memilih jalan tengah saja, pasien jangan terlalu banyak tapi saya senang bersama dengan pasien. =)

Saya senang bersama dengan pasien-pasien neurologi. Ya, tentunya bukannya saya senang dengan penyakit mereka. Tetapi karakteristik mereka yang berbeda dengan pasien bagian lainnya. Pasien neurologi, terutama pasien stroke adalah pasien yang secara sekonyong-konyong harus menerima kenyataan mereka stroke, badan lumpuh, atau berbicara pelo. Mereka adalah orang-orang yang menyesali diri akan kesehatan mereka, kebiasaan mereka. Mereka adalah pasien yang sepenuhnya bergantung pada orang lain. Selain karena dimakan usia, mereka kehilangan kemampuan untuk hal-hal dasar seperti berjalan, mandi, makan, dan bahkan berbicara. Dan dibalik itu semua, mereka masih memiliki jiwa yang sadar dan bergejolak dahsyat.

Tn L

Adalah pasien Tn L yang terbaring lemah di unit stroke. Pasien ini sebenarnya bukan pasien yang secara langsung saya terima. Ia sudah menjalani beberapa hari perawatan di sana sebelum saya memulai kepaniteraan. Pasien ini terkenal banyak maunya, sering memanggil perawat, sering meminta untuk diukur tekanan darahnya. Ketika membagi follow-up pasien, saya mendapat pasien ini. Ya, untuk permulaan saya tentunya mendatangi pasien untuk mengetahui riwayat penyakitnya. Dia banyak bercerita, banyak berkisah. Sampai suatu ketika saya menyimpulkan pasien ini memiliki kepribadian yang cemas. Ia takut stroke iskemik itu terjadi pada dirinya. Dia takut semuanya. Bahkan makanan rumah sakit ia takuti bergaram dan bisa memperburuk kesehatannya. Saya berusaha untuk memberitahunya berbagai hal yang tak perlu ia takuti. Setelahnya saya berpamitan dan pulang ke asrama koas di sana.

Keesokan harinya saya mendapati kabar bahwa ternyata saya dicari-cari oleh keluarga pasien itu. Mau ketemu "dr. Andrian" katanya. Ternyata dia lagi-lagi cemas pada malam itu. Memang kepribadiannya begitu rentan. Dan hari-hari berikutnya saya terus menerus dicari. Saya agak sedikit jengkel sebenarnya, hahahaha... Karena saya tidak jaga kok dicari-cari. Namun saya cukup senang, karena mungkin itu adalah tanda penghargaan. Dan ketika ia pulang pun saya sudah tak berdinas di unit stroke, saya masih dapat bertemu isterinya dan berpamitan.

Ny T

Ny T, seorang ibu separuh baya dengan stroke iskemik. Mulutnya pelo, badannya lemas separuh. Apa yang saya dapati berbeda dengan kasus Tn L. Walaupun ia terkena stroke, ia masih berusaha untuk semangat, bahkan ia menjawab pertanyaan dengan lantang. Ia pun sering tertawa, bahkan kadang-kadang menjadikan dirinya bahan humor di seantero bangsal kelas 3.

Keesokan harinya, saya mem-follow-up Ny T. Saya menemukan bahwa tangan dan kakinya yang lemas mulai pulih, mulai kuat. Saya pun mengatakan, "Wah ibu, Alhamdullilah. Ini sudah perbaikan. Sudah bisa main panco ya bu." Ny T terkejut dan senang sekali. "Benar dok?" Saya hanya bisa tersenyum dan anak yang menunggunya pun tersenyum senang. Saya pun menjawabnya, "Ini karena pikiran ibu yang tetap semangat." Saya pun meninggalkannya, dan ia pun menggerak-gerakkan tangannya yang dulu lemas itu. Dan hingga beberapa hari ke depan, ia tetap senang dan gembira sampai pada akhirnya pulang untuk perawatan di rumah.

Mungkin ini kebiasaan yang terkadang dikeluhkan oleh teman-teman saya. Bahwa kalau saya anamnesa terlalu lama. Terkadang saya keluar anamnesa malah menjadi mengobrol, tanpa membicarakan penyakitnya. =P Namun bagian ini yang saya suka, bergaul dengan pasien.

Tidak ada salahnya bukan kalau kita tahu berapa cucunya dan apa makanan kesukaannya?

Kamis, 02 September 2010

Dokter Muda (Koas): Benarkah Mereka itu Sombong Sekali?

Ada sebuah tulisan yang cukup menghebohkan dunia kedokteran, terutama pendidikan dokter. Tulisan yang dimuat di kompasiana itu berjudul Para Calon Dokter itu Sombong Sekali yang ditulis oleh Afandi Sido. Penulis blog itu menuturkan tanggapannya atas apa yang ia lihat dan rasakan terhadap dokter-dokter muda yang ada di salah satu RS di Yogyakarta. Ia merasakan dari sisi awam bahwa dokter-dokter muda menyebabkan kesenjangan sosial dan cenderung eksklusif, tidak memiliki rasa empati terhadap pasien dan orang-orang sekitar.

Dalam tulisan ini saya mencoba untuk memberikan tanggapan dari sisi dokter muda mengenai tulisan dan berbagai streotipe yang beredar di masyarakat. Semoga dapat memberi cakrawala lain bagi tulisan tersebut. Dan tentu tulisan ini adalah opini dan argumentasi.

 

Menjadi dokter adalah sebuah cita-cita bagi banyak orang. Menjadi dokter juga adalah sebuah impian, harapan bagi berbagai idealisme. Baik idealisme menolong orang lain, memenuhi harapan keluarga, hingga mengangkat harkat martabat keluarga. Apapun itu dasarnya, tidak bisa dielakkan, tidak bisa diubah, dan itulah keunikan setiap individu yang ingin menjadi dokter.

 

Menjadi dokter pula bukan berarti tanpa biaya. Namun juga bukan berarti biayanya murah. Memang sebuah fakta, bahwa menjadi dokter, di Indonesia, adalah barang yang mahal. Kocek memang harus diraba lebih dalam. Hal ini membuat asumsi masyarakat bahwa FK (Fakultas Kedokteran) adalah Fakultas Kaya. Saya kira suatu hal yang masuk akal saja bahwa orang yang mampu secara ekonomi dapat masuk FK, toh dia mampu-mampu saja. Dan tentu saja dibalik itu orang yang tidak mampu, tidak boleh tidak dapat masuk FK karena terdapat banyak jalur pembiayaan pendidikan termasuk beasiswa. Yang jelas kedua-duanya, baik yang kaya atau tidak mampu, memiliki satu kesamaan yang tidak dimiliki orang lain, yaitu kemampuan akademik yang tepat untuk menjadi dokter. Itu saja. Maka saya kira masalah pundi-pundi bukan alasan untuk masuk FK.

 

Menjadi dokter harus melalui dua tahap pendidikan, yaitu praklinik dan kepaniteraan klinik. Praklinik adalah menjalani kuliah-kuliah selama 3,5 tahun-4 tahun dan setelah menyelesaikannya akan diberi gelar S.Ked (Sarjana Kedokteran). Seorang S.Ked belum dapat menjadi dokter. Sama seperti Seorang SE (Sarjana Ekonomi) belum dapat menjadi akuntan. Seorang SH (Sarjana Hukum) belum dapat menjadi advokat atau notaris. Maka seorang S.Ked harus menjalani kepaniteraan klinik atau koas (dari kata ko-asisten, artinya jelas sebagai asisten dokter, bukan dokter) atau periode dokter muda selama 1,5-2 tahun. Setelah itu, dengan kurikulum baru dan kebijakan baru harus melewati masa internship selama 1 tahun dengan STR sementara, sebelum itu menjalani UKDI (Ujian Kompetensi Dokter Indonesia). Baru dapat mengajukan STR tetap dan SIP sesuai dengan UU Praktik Kedokteran. Baru dapat praktik mandiri sebagai dokter.

 

Menjadi koas. Menjadi koas adalah suatu periode pendidikan dokter yang ditekankan pada penerapan (aplikasi) teori-teori yang sebelumnya sudah didapat dari periode praklinik. Menjadi koas bukanlah menjadi dokter mandiri. Koas memiliki hak dan kewajibannya sendiri dan serupa-tak-sama dengan hak dan kewajiban dokter. Koas dan dokter punya kewajiban untuk menghormati pasien, bersikap profesional sesuai keilmuan, dan lainnya. Namun koas tidak ada hak untuk berpraktik mandiri. Semua apa yang dilakukan koas harus berada dibawah supervisi dokter pembimbingnya. Namun dibalik itu mereka pun dituntut untuk memiliki profesionalisme layaknya dokter mandiri. Jadi, saya kira ketika masyarakat awam berhadapan dengan koas, maka sudah sesuai aturan yang ada, bila mereka tidak dapat menegakkan diagnosis dan memberi terapi secara mandiri di depan pasien tanpa dikonsultasikan dengan pembimbingnya.

 

Menjadi koas memang posisinya seperti serba tanggung. Mereka menganamnesa pasien, memeriksa pasien, kemudian baru dilaporkan ke pembimbing, dan diricek ulang pembimbing, baru dapat ditegakkan diagnosis oleh pembimbing. Memang tampak ribet, dan tidak seperti ke dokter biasa yang bisa dilewati proses oleh dokter muda langsung ke dokter praktiknya. Hal ini tidak jarang memberi kesan bagi pasien, apakah saya jadi bahan percobaan? Tentunya di sini perlu ada kesepahaman antara dua pihak. Koas perlu bersikap profesional dan memberi rasa nyaman sehingga pasien tidak dirugikan. Dan sebaliknya pasien perlu paham bahwa dirinya bukanlah kelinci percobaan, tetapi dirinya terlibat sebagai guru bagi koas sehingga koas pun bisa mengembangkan dirinya untuk menjadi dokter yang baik kelak. Apakah masyarakat mau punya dokter yang selama hidupnya hanya melakukan tindakan dengan boneka saja?

 

Apakah pasien harus takut bila diperiksa koas? Ini kembali lagi kesepahaman. Koas harus bersikap profesional, rasional, dan sesuai dengan janji hipokratiknya untuk "First do no harm -- Yang terutama, jangan mencelakakan orang". Kemudian ia menerapkan apa yang ia pelajari sesuai dengan standar ilmu yang ada. Di dalam proses dunia fana ini, mungkin terjadi kesalahan. Misalnya koas yang menginfus pasien menyebabkan bengkak di tempat penusukan dan akhirnya penusukan infus diberikan ke pembimbing. Ingat bahwa semata-mata, koas tidak ada niat mencelakakan pasien, ia berusaha yang terbaik bagi pasien. Kesalahan yang ada bukan disengaja. Tindakan-tindakan ini memerlukan pengalaman yang tak hanya sekali. Seperti anak yang belajar berjalan, apakah ia dapat tanpa tejatuh atau tertatih dahulu?

 

Menjadi koas, seperti yang disebutkan, perlu mengedepankan rasa profesionalisme layaknya dokter praktik. Harus mampu menempatkan diri dan sikap yang sesuai. Jelas dokter muda tidak boleh terlihat asyik bermain game di depan pasien. Dokter muda tidak boleh diam saja ketika pasien memerlukan pertolongan. Dokter muda tidak boleh terlihat cengengesan di depan pasien. Ya, ini layaknya seorang dokter.

 

Selama hampir 1 tahun saya menjadi koas, saya merasakan banyak pengalaman menjadi dokter muda. Baik dari yang diacuhkan pasien karena saya seorang dokter muda, namun tidak sedikit saya mendapat pengalaman berharga bersama pasien. Banyak pasien yang juga senang terhadap dokter muda, karena mereka dapat mencurahkan isi hatinya lebih banyak, karena mereka dapat bertanya lebih banyak. Karena dengan dokter mudalah yang lebih sering berinteraksi dengan mereka daripada dokter konsulen dan perawat. Karena dokter mudalah yang sering menjawab bel panggilan mereka ketika infus mereka macet. Karena dokter mudalah yang seharian membantu memberi napas bantuan melalui kantung ambu ketika pasien tidak mampu membayar ICU. Dokter mudalah yang menghitung detail air minum dan air kencing pasien yang gagal jantung. Dan tentunya ini berakhir dengan ucapan: "Terima kasih dokter" kepada dokter muda itu.

 

Apa kesimpulannya? Antara pasien dan koas perlu ada kesepahaman, perlu ada rasa menghargai dan menghormati satu sama lain. Eksistensi keduanya saling diperlukan. Pasien tidak perlu lagi merasa dirinya kelinci percobaan. Koas tidak perlu merasa pasien adalah duri dalam daging. Tetapi keduanya saling merasa membutuhkan sehingga menghasilkan hubungan yang mutualisme satu sama lainnya.