Kamis, 12 Maret 2009

Mempersakit Pasien Penyakit Jiwa?

Ia pernah sakit jiwa dan itu menyakitkan bagi dia
Ibunya begitu pasrah dan merelakannya
Ketika ia mulai pulih dan dapat tersenyum
Ia masuk ke kehidupan yang biasa disebut "hidup normal"
Kini ia menikam gadis
dan masuk bui


Kisah di atas mungkin adalah sebuah kisah fiktif hasil tangan saya. Namun kita tidak bisa berpaling bahwa kisah ini nyata dalam kehidupan.


Penyakit Jiwa
Penyakit jiwa, kelompok penyakit lainnya yang sebenarnya setara saja dengan penyakit dalam (interna), kebidanan, saraf (neurologi), dan lainnya. Namun ia kian spesial karena terkadang menyulitkan dan menyakit jiwa seseorang. Jiwa, sesuatu yang amat abstrak. Jiwa bukanlah sebuah sisi anatomi yang memiliki segala sudut sehingga memiliki nomenklatur Latin. Jiwa mungkin memiliki sisi faali dan biokimiawi yang dapat menyokong sesuatu yang bernama "hidup".


Kejiwaan adalah sesuatu yang terkadang membuat masalah lebih besar dalam ilmu kedokteran. Ketika kita mengungkap schizophrenia, psikopat, homoseksual, kleptomania. Suatu keadaan yang sulit dapat didiagnosa dengan prinsip palpasi atau auskultasi.


Saya berusaha memikirkan sebuah pertanyaan, apakah penyakit jiwa adalah penyakit ringan? Apakah ia setara dengan penyakit flu? Atau dalam tingkatan berat seperti karsinoma pankreas stadium terminal yang akhirnya berakhir dengan morfin dosis tinggi dan meninggal? Apakah penyakit jiwa dapat benar-benar tersembuhkan atau paling tidak dapat dianalogikan dengan penyakit cacar air yang di mana bekas penderitanya memiliki kekebalan sehingga agen penyakit tidak bisa masuk ke tubuh?


Orang Gila?
Masalah yang ada dalam kisah yang saya tuliskan akan berlanjut,


Ia kembali sakit jiwa, demikian kata polisi
Ia kambuh lagi dan kembali terjun ke masa lalu
Ibunya kembali pasrah dan rela
Inikah nasibku?, katanya dalam hati
Aku memang orang gila, seperti kata mereka

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kita hidup dalam masyarakat yang memiliki banyak label streotipe (stigma). Orang Cina dianggap pelit, orang Batak dianggap agak kasar. Begitu pula dengan streotipe penyakit, ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) itu adalah orang tunasusila. Orang dengan penyakit jiwa adalah orang gila.


Gila, menurut KBBI 1990, adalah orang yang sakit ingatan dan sakit jiwa (saraf terganggu atau pikiran tak normal). Demikian kata ahli bahasa Indonesia yang menyusun KBBI. Di sini memiliki satu kelemahan, bila kita mengikuti pakem yang sudah ada di masyarakat. Saya kembali mengkritisi apa yang dimaksud dengan normal? Bagaimana sesuatu bisa dianggap normal? Berapa orang yang diperlukan untuk menentukan kenormalan dan keabnormalan? Anggaplah seorang ahli seni menganggap gambar atau patung telanjang adalah normal, kemudian berbagai kelompok keagamaan mengatakan itu adalah pornografi yang tak direstui Tuhan. Mungkin Michaelangelo, pelukis pada masa Renaisans, akan menyesali "Daud"-nya?


Orang yang berpenyakit jiwa memang gila. Namun sayangnya, kata gila sendiri telah mengalami peyorasi yang sangat jauh. Orang sakit sakan harus keluar dari komunitas sosial dan dipersatukan dengan kelompok yang dianggap pantas. Adilkah ini? Kemanakah pasien flu, pasien batuk rejan? Bukankah itu lebih menular?


Kalaupun mau dikatakan orang gila atau sakit jiwa. Masing-masing personal memiliki unsur kelainan jiwa misalnya. Seperti ketidaksempurnaannya perkembangan individu sesuai dengan apa yang dikemukaan Sigmund Freud, Erik Erikson, Jean Piaget, atau Kohlberg? Seseorang yang mengalami stagnansi perkembangan. Mereka pun gila. Tapi sekali lagi, kata gila terlanjut dipeyorasikan.


Sakit Jiwa Terpeyoratif
Sebuah pertanyaan yang saya kemukakan di atas, apakah sakit jiwa dapat disembuhkan? Ini memiliki arti yang luas. Dalam kisah kita akan melihat orang tersebut (atau Aku) pernah menderita penyakit jiwa, kemudian kembali ke "hidup normal" dan kemudian mengalami masalah yang pelik, pembunuhan. Ia dianggap sebagai seorang psikopat oleh orang lain.


Sebuah label yang cepat ditempel dalam diri seseorang, karena ia memiliki riwayat sakit jiwa? Kejadian seperti ini akan menggemparkan dunia jurnalistik. Ahli psikiater mendadak terkenal dan diwawancarai oleh wartawan atau ada yang diundang ke studio televisi. Begitu gemparnyakah penyakit jiwa?


Sebuah hal yang cukup memutar otak, mengapa orang yang memiliki riwayat sakit jiwa yang sebelumnya telah dinyatakan sembuh, begitu diagung-agungkan pada seseorang tersangka pembunuhan? Tidakkah pernah ditulis: "Tersangka pembunuhan dengan riwayat hipertensi?". Apakah ini menomorsatukan atau menomorduakan penyakit jiwa?


Dulu merka dianggap sembuh. Seperti, sembuh dari flu. Sembuh dari gejala typhoid. Itu masa lalu dan hanya rekam medis. Dan kini ketika suatu masalah datang, inikah kambing hitamnya?


Sakit Jiwa Ada Jiwa
Tidakkah kita berpikir, atau terlintas di benak, mereka punya hati. Apa yang kita rasakan ketika mengatakan "Pak, Anda menderita kanker prostat.". Ini bukanlah suatu hal yang serupa dengan "Selamat Hari Jadi". Ini sama dengan perkataan "Ia terkena sakit jiwa".


Hati ini terus bergejolak dan semakin memanas. Apa yang ada di kepala menjadi racun. Apalagi ia masih sempat berpikir, apa kata orang tentang aku? Bagaimana ibuku? Ia memiliki anak berpenyakit jiwa?


Kita mengacuhkan itu... Yes, we do.

1 buah diagnosa diferensial telah diberikan:

  1. Btw Hau, baca bukunya Paulo Coelho deh. Veronika memutuskan untuk mati. Ada referensi yang bisa dijadikan pertimbangan untuk masalah ini.

    P.S. : Paulo Coelho adalah mantan pasien RSJ asal Brasil

    BalasHapus

Para konsulen dipersilahkan menuliskan diagnosa diferensial untuk kasus ini: