Jumat, 16 Agustus 2013

Backpacking Vietnam-Kamboja (8): Siem Reap

Angkor Wat, simbol nasional Kamboja



Hari 8: 21 April 2013, PP-Siem Reap

Hari ini saya melanjutkan perjalanan ke kota perhentian terakhir di rangkaian travelling Vietnam-Kamboja ini, yaitu Siem Reap. Rumah dari kompleks candi terbesar di dunia, Angkor Wat. Siem Reap berarti "Kekalahan Siam", menunjukkan konflik "abadi" antara bangsa Khmer dan Siam/Thai. 

Saya dijemput jam 7 oleh Mr. Tha ke pangkalan Mekong Express dengan tarif 3 USD. Perjalanan ke Siem Reap akan berlangsung selama 6-7 jam. Sebelumnya ketika masih di Ho Chi Minh City, saya sudah mengontak Mr. Wann, pemilik penginapan Golden Mango Inn yang akan kami tempati di Siem Reap. Kami juga sudah memesan pengendara tuktuk khusus untuk kami selama tur di Angkor Wat, yaitu Mr Soc sesuai rekomendasi dari beberapa teman blogger.

Sesampainya di pangkalan bus Mekong Express di Siem Reap, kami sudah siap dijemput oleh Mr Soc yang sambil berdiri membawa kertas nama saya. Seperti di bandara saja ya. Kami kemudian langsung diantar Mr Soc ke penginapan. 

Saya amat takjub ketika pelayanan Golden Mango Inn yang ramah sekali. Mereka selalu menyapa, membantu dengan detail, dan bahkan mereka mengingat nama Anda ("Good Morning, Martine and Andrea"). Ya, mereka salah menyebut nama saya --" tapi ya sudahlah karena susah juga kan menyebut nama saya hehehehe... Saya juga bertemu Mr. Wann yang seringkali saya "grecokin" via email untuk bertanya mengenai perjalanan Angkor Wat.

Setelah tiba saya langsung memesan untuk buffet Apsara Dance (10 USD per orang, tuktuk ke kota digratiskan hostel) dan memesan itinerary untuk tur Angkor Wat dengan tuktuk (20 USD) esok hari.

Untuk Apsara Dance, memang tidak begitu fantastik sih. Tapi cukup menghibur dan mengenal tarian Kamboja yang mirip dengan tarian Thailand (mungkin karena kebudayaannya masih dekat). Makanan buffetnya pun tidak terlalu enak. Kami pun pulang ke hostel dengan tuktuk (3 USD, mau kami tawar 2 USD namun tidak dapat-dapat hehehe...). Then, let's call it a day!

Foto dengan penari Apsara


Hari 9: 22 April 2013, Angkor Wat Tour

Setelah berdiskusi dengan staf di Golden Mango Inn, akhirnya saya membuat itinerary di Angkor Wat: Angkor Wat - melintasi Pre Rup dan Sra Shang - Bantaey Srei - Ta Prohm - Bayon - Teraace of Elephant dan Terrace of Leper King - sunset di Phnom Bakheng.

Sebenarnya bisa menikmati sunrise di Angkor Wat, namun karena terlalu pagi dan tidak baik untuk kesehatan ibu, maka saya membatalkannya.

Jam 8, sesudah sarapan di hostel, kami siap untuk berangkat ke Angkor Wat! Setibanya di pintu masuk, kami harus membeli tiket. Saya membeli untuk tiket satu hari 20 USD/orang.  Dan tiketnya ada fotonya loh.

Smileeee!
Kami langsung menuju ke kompleks Angkor Wat dengan tuktuk. Ohya untuk mengitari Angkor Wat memang dengan tuktuk, tidak ada kendaraan umum yang lewat kecuali bus-bus kecil untuk tur. Selain itu kalau kuat, bisa juga dengan sepeda. Namun kompleks Angkor Wat itu besaaaarrr sekali kompleksnya.

Kami akhirnya diturunkan di Angkor Wat dan Mr Soc akan menunggu kami di pintu satunya lagi.
Saya melihat adanya kolam di depan gerbang. Saya berpikir-pikir mana Angkor Watnya? Ternyata masih ada di dalamnya lagi! Dan sangat megah!

Well done, kita akhirnya sampai di Angkor Wat!

Angkor Wat adalah candi terbesar di dunia, yang dibangun oleh Raja Suryawarman dari Kerajaan Khmer pada awal abad ke-12. Candi ini didedikasikan khusus untuk dewa Wisnu. Dari buku yang saya baca, memang relief-relief yang ada banyak menceritakan tentang dewa Wisnu. Uniknya juga, candi ini pada akhirnya juga ditujukan untuk umat Buddha dengan adanya patung-patung Buddha di dalamnya.

Di dalamnya ternyata amat luas dan saya sempatkan juga untuk naik ke candi utamanya yang amat tinggi. Tangganya curam banget.
Tangga menuju candi utama

Salah satu sudut


Penari Apsara

Perjalanan dari ujung ke ujung itu sangat melelahkan juga. Setelah sekitar 1,5 jam kami di dalam Angkor Wat, akhirnya kami berpindah ke candi lainnya yang agak jauh yaitu Banteay Srei. Dalam perjalanan kami mampi berfoto di depan Pre Rup dan Sra Sang.

Candi Pre Rub

Rumah masyarakat sekitar di lingkungan Angkor Wat

Kolam Sra Sang
Perjalanan menuju Banteay Srei cukup lama sekitar 30 menit, di sepanjang jalan kami melihat kehidupan masyarakat sekitar yang banyak membuat gula aren sembari diperkenalkan oleh Mr Soc. (Di Indonesia juga ada loh, Mr Soc hehehe).

Akhrinya kami tiba di Banteay Srei, sebuah kompleks candi dari abad ke-10  (lebih tua dari Angkor Wat?) yang didedikasikan untuk dewa Shiwa. Di kompleks ini suasana feminin sangat terasa dengan ditemukannya banyak arca yoni. Banteay Srei adalah satu-satunya candi di lingkungan Angkor Wat yang bukan dibangun oleh kerajaan. Candi ini dibangun oleh Yajnawaraha yang merupakan kanselir kerajaan. Yang menarik juga bahwa candi ini sangat banyak detail ukir-ukirannya, bertolak belakang dari Angkor Wat.

Ukiran relief di Banteay Srei

Di candi utama Banteay Srei

Setelah dari Banteay Srei, kami diantar makan siang oleh Mr Soc. Makan siang kami di sebuah restoran kecil di Angkor Wat dengan total makan siang 6 USD berdua. Kemudian perjalanan kami lanjutkan ke salah satu candi yang amat terkenal di Angkor Wat, apalagi kalau bukan Ta Prohm alias Tomb Raider's Temple.

Candi Ta Prohm dibangun pada awal abad ke-13 oleh Jayawarman VII dan dibangun sebagai kuil Buddha untuk ibunya dalam merepresentasikan Prajnaparamita atau "kesempurnaan atas kebajikan". Yang unik dari Ta Prohm adalah banyaknya pohon-pohon liar  dan besar yang tumbuh seakan-akan menggerogoti candi. 

Akar-akar pohon Ta Prohm

Setelah dari Ta Prohm, kami melanjutkan ke candi Bayon. Candi ini berada di tengah-tengah kompleks Angkor Thom, yang pernah menjadi pusat pemerintahan Khmer kuno. Bayon didirikan pada awal abad ke-13 hampir sama dengan Ta Prohm. Bayon juga didirikan oleh Jayawarman VII dan didedikasikan untuk Buddhisme terutama Mahayana.

Candi Bayon sangat unik dengan banyaknya relief-relief wajah orang yang tersenyum. Relief ini juga dapat ditemukan di gerbang Angkor Thom. Relief wajah ini dipercaya sebagai relief wajah dari Jayawarman VII dan ada juga yang menyebutkan sebagai wajah dari Boddhisatva. Kalau diperhatikan ekspresi wajahnya berbeda-beda loh, ada yang mata terbuka, ada yang tertutup, dan senyumnya pun berbeda.



Di depan Bayon

Detail wajah di candi Bayon

Setelah puas di Bayon, kami diantar berkeliling ke Terrace of Elephants dan Terrace of Leper King. Di Terrace of Elephants terlihat relief gajah. Sedangkan di Terrace of Leper King terdapat patung yang direpresentasikan ke dewa Yama, dewa kematian Hindu. Patung ini disebut juga "Leper King" atau "Raja Kusta" karena warna-nya yang memutih dan ada juga riwayat raja Khmer yang mengalami kusta yaitu Yasowarman I.

Patung "Leper King"

Terrace of Elephant
Setelah ini kami menuju perhentian terakhir di Angkor Wat yaitu Phnom Bakheng. Sesuai dengan namanya yang berawalan "phnom", candi ini berada di atas bukit. Candi ini dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Yasowarman. Candi ini merepresentasikan Gunung Meru, yaitu gunung tempat tinggal para dewa pada mitologi Hindu. 

Untuk naik ke atas, kita berjalan kaki. Ada juga perjalanan dengan naik gajah, selama 15 menit dengan tarif 20 USD untuk naik dan 15 USD untuk turun dan tarif itu per orang! Saya dan ibu memutuskan untuk berjalan kaki dengan perlahan. Kami menghabiskan waktu 30-45 menit untuk sampai ke bukit. Dalam perjalanan kami dapat melihat West Baray dari kejauhan. 

Ternyata untuk sampai ke atas Phnom Bakheng diperlukan lagi aik ke puncak candi. Ibu saya akhirnya memutuskan untuk menunggu saja di bawah. Di puncak candi, kita dapat melihat Angkor Wat dari kejauhan dan ternyata bukit ini cukup tinggi. Saya memang akhirnya tidak menunggu sampai benar-benar sunset karena kami harus berjalan lagi menuruni bukit.


Terlihat Angkor Wat di kejauhan dari puncak Phnom Bakheng
Dan perjalanan seharian kami di Angkor Wat pun selesai! Terima kasih untuk Mr Soc yang mengantar kami. Karena pelayanannya memuaskan, saya pun menambah tips 5 USD untuknya. Ohya Mr Soc juga menyediakan air minum dingin gratis di tuktuknya.

Malam harinya, saya makan malam di hotel, karena sudah malas keluar. Menikmati malam sambil mencicipi bir Angkor, bir nasional Kamboja.

Angkor Beer, National Pride

Hari 10: 23 April 2013, PP-Siem Reap

Kami pun kembali ke tanah air dengan mampir sebentar di Kuala Lumpur. Dengan biaya 4 USD, kami diantar ke Bandara Siem Reap yang cukup nyaman. Selamat tinggal Vietnam dan Kamboja!

*Dalam perjalanan ternyata pesawat kami melewati Tonle Sap, danau terbesar di Kamboja dan Asia Tenggara. 

Bye Siem Reap!

Tonle Sap!

2 buah diagnosa diferensial telah diberikan:

Para konsulen dipersilahkan menuliskan diagnosa diferensial untuk kasus ini: