Jumat, 16 Agustus 2013

Backpacking Vietnam-Kamboja (7): Phnom Penh Bagian 2


Lanjutan Hari 7: 20 April 2013, Phnom Penh

"Masa berkabung" ini masih kita lanjutkan dengan mengunjungi Tuol Sleng Genocide Museum di Phnom Penh dengan biaya masuk 5 USD/orang. Museum ini terkenal sebagai eks gedung sekolah menengah yang digunakan untuk pembantaian pada rezim Khmer Merah. Tuol Sleng hanyalah salah satu dari ratusan tempat pembantaian dengan jumlah korban 20.000 orang. Ya, jumlah orang yang mati saat itu dalam kurun 1975-1979 adalah sebanyak 1.700.000 orang (21% dari jumlah penduduk saat itu) atau kini setara dengan total jumlah penduduk di Provinsi Bengkulu. Luar biasa, mengerikan!

Di Tuoul Sleng masih disimpan alat-alat penyiksaan, foto-foto jasad korban, dan yang mengerikan adalah daftar foto orang-orang yang akan dibunuh. Ya, pengelola penjara ini dulu amat detail dalam mendokumentasi semua identitas dari korban-korbannya. Amat mengerikan menatap ribuan foto-foto tersebut.


Foto-foto para korban
Gedung Tuol Sleng

Dulu mereka disiksa sampai mati di sini

Setelah itu kami sampai ke akhir perjalanan tuktuk kami menuju National Museum. Di tengah perjalanan saya meminta untuk berhenti sejenak di "Independence Monument" alias Monas-nya Kamboja. Dan kami akhirnya diturunkan di dekat National Museum yang letaknya tak jauh dari Sisowath Quay.

Bersama Mr Tha dan tuktuknya di Independence Monument

Sebelum kami ke National Museum, saya mencari restoran yang amat direkomendasikan oleh blogger Indonesia. Ini adalah "daftar wajib" yang harus dikunjungi oleh orang Indonesia di Phnom Penh! Yup, Warung Bali, restoran yang menyuguhkan masakan Indonesia. Wuaaaa, saya sangat rindu masakan Indonesia. Kami pun memesan ikan rica-rica dan tempe. Slruuppp....

Di Warung Bali ini, kami bertemu dengan Kang Firdaos, pemilik restoran ini. Ternyata ia dulu adalah mantan chef dari KBRI di Kamboja. Kini ia dengan kawannnya membuka Warung Bali. Dan sangat ramai loh. Restoran ini banyak dikunjungi oleh ekspatriat Indonesia, turis Malaysia, dan mereka yang rindu masakan tanah air *termasuk saya*. Terima kasih Kang Firdaos!

Foto di depan banner Warung Bali

Nyam-nyam-nyam. Makanan terlahap kami selama di perjalanan ini. Hehehehehe.


Setelah dikenyangkan, perjalanan dilanjutkan ke National Museum dengan biaya 5 USD. Sebenarnya koleksi museum nasional ini mirip seperti di bangunan arca di Museum Nasional RI. Namun tidak klop kan kalau belum mengunjungi museum nasional sebuah negara? Saya amat heran juga bahwa artifak-artifak ini juga selamat dari rampasan Khmer Merah.

Museum Nasional Kamboja

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Silver Pagoda dan Royal Palace yang letaknya tidak jauh dari National Museum. Wah, ternyata hari itu cukup sesak turis (kebanyakan dari Vietnam) yang ingin masuk. Biayanya 6,5 USD per orang. Kami melihat Silver Pagoda, yang lantainya terbuat dari ubin perak, kemudian patung giok dan patung berlian Buddha. 

Biksu di Kamboja

Di halaman depan Royal Palace

Bangunan di Royal Palace
Silver Pagoda


Kemudian kami masuk ke halaman Royal Palace dan kemudian kembali ke perjalanan pulang ke hostel untuk mandi setelah berpeluh dan berdebu seharian. Di tengah perjalanan pulang, saya sempatkan untuk membeli buku tentang Angkor di salah satu toko buku seharga 10 USD (Book is a must! :D).

Bekal Buat Besok

Malamnya kami makan malam dengan lauk fish amok (semacam gulai ala Kamboja) dan mencicipi es krim dan roti di gerai Blue Pumpkin. Kami pun bersiap untuk besok dijemput oleh Mr Tha untuk berangkat ke Siem Reap.

Fish Amok. Enak juga loh!

Menikmati es krim di Blue Pumpkin

3 buah diagnosa diferensial telah diberikan:

Para konsulen dipersilahkan menuliskan diagnosa diferensial untuk kasus ini: